SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA | RAMADHAN 1432 H

Ikuti Upline

Apa bedanya seorang pemain terbaik dunia dengan orang rata-rata? Setiap pemain terbaik dunia pasti didampingi oleh seorang pelatih. Sebaliknya, orang rata-rata tidak pernah punya pelatih. Tetapi anehnya, di arena pertandingan, biasanya orang rata-rata kelihatan lebih hebat daripada pelatih ataupun pemain terbaik dunia.

Kalau Anda lihat pertandingan sepakbola, siapa yang lebih sibuk, pelatih atau suporter? Maju, maju oper kanan, umpan kiri …. Wuaaaaah luar biasa heboh..!!! Pelatihnya diam saja. Mungkin hanya sesekali kalau skenario yang sudah direncakan ternyata kurang efektif di lapangan.

Kalau Anda yang jadi pemain, kira-kira mana yang Anda ikuti. Strategi yang disarankan pelatih atau komando para suporter?

Kalau ada dua kesebelasan,
kesebelasan A selalu mengikuti petunjuk pelatih, ato
kesebelasan B ikut teriakan suporter.
Kira-kira tim mana yang jadi pemenang?

Ya anda sudah tahu jawabannya, untuk jadi pemenang, untuk menjadi seorang juara, Anda harus mengikuti petunjuk pelatih. Meskipun Anda tidak mengikuti saran penonton, tapi kalau Anda jadi pemenang, penonton ikut senang nggak? Pasti ikut senang.

Tapi kalau Anda ikuti saran penonton, lalu Anda kalah. Yang nyorakin Anda kalah siapa? Penonton juga. Itu enaknya jadi penonton, maunya menang terus. Tapi mereka tidak pernah ikut bertanggungjawab kalau Anda kalah.

Inilah wajah kehidupan kita termasuk di bisnis network marketing. Banyak distributor yang ingin sukses namun tidak banyak yang mau mendengarkan saran pelatihnya. Tidak banyak distributor yang mau mengikuti petunjuk sponsor atau uplinenya. Lebih senang mendengarkan suporter di luaran sana yang jumlahnya mayoritas.

Ketika Upline bilang,”yuk hadir di pertemuan”.

Di perjalanan, pasti banyak orang yang menyarankan lain.
”Ayo kita jalan-jalan dulu…."
"ayo kita kumpul-kumpul dulu…"
"ayo nonton tinju bareng…"
"Ngapain sibuk hari libur begini."
Bla…bla….bla….bla.... . . . . . . . . . .

Mana yang Anda pilih :
Anjuran upline atau suporter yang lebih banyak suaranya?

Salah satu hal penting yang membedakan bisnis MLM dengan konvensional adalah, begitu banyak pelatih atau mentor-mentor yang siap membantu kesuksesan Anda. Anda punya orang-orang yang mau sepenuh hati membimbing Anda. Mentor-mentor Anda begitu tulus dan peduli dengan masa depan Anda.

Coba bayangkan seandainya Anda membangun usaha catering. Lalu Anda datang ke pengusaha catering yang sukses. Anda tanya ”Bu, saya mau buka usaha catering seperti Ibu. Bagaimana resepnya supaya saya bisa sukses seperti Ibu”. Lalu ibu itu mengatakan,”Oh dengan senang hati, dulu saya merintis bisnis ini dengan modal sekian, resep masakannya ini, pembukuannya begini bla..bla...blla... dst”.

Kira-kira apakah anda bisa menemukan pengusaha seperti itu?
Mungkin Bisa, jika anda bertanya kepada 1000 pengusaha.
Salah satunya mungkin akan mau membuka rahasia suksesnya. Yang pasti, mayoritas dari mereka tidak.

Anda beruntung, di bisnis ini. Karena apa? Kalau Anda tanyakan kepada upline leader Anda,”Pak bagaimana saya bisa sukses seperti Anda dengan penghasilan puluhan juta?” . Belum ditanya pun Upline Anda sudah membukakan rahasianya. Semua rahasia sukses beliau akan dibukakan kepada Anda 100%.

Diluaran sana untuk mendapat saran-saran bisnis, Anda harus mencari konsultan. Konsultan keuangan, konsultan pemasaran, konsultan manajemen karyawan, konsultan manajemen persediaan dan gudang dsb. Kira-kira berapa Anda habiskan biaya untuk konsultasi seperti itu?

Di bisnis apapun Anda membutuhkan seorang mentor untuk membimbing Anda step by step. Anda beruntung, di bisnis network marketing Anda bisa mendapatkan saran-saran, petunjuk-petunjuk, bimbingan bimbingan untuk melangkah ke jenjang kesuksesan secara gratis.

Tanpa bimbingan upline, kita bukan siapa-siapa. Kita semua belum pernah mengetahui seluk-beluk bisnis ini. Apa yang kita ketahui tentang produk?, apa yang kita ketahui tentang pentingnya nutrisi?, apa yang kita ketahui tentang cara presentasi yang benar? Apa yang kita ketahui tentang manajemen jaringan? Semua datang dari upline kita.

Mungkin dari kita ada yang berkata ”Tapi saya banyak belajar dari buku Pak”. Ok Anda benar..!! Tapi siapa yang memberikan rekomendasi buku yang Anda baca? Upline Anda juga khan?

Sepanjang Anda berkomitmen sukses, sponsor dan upline dengan tangan terbuka akan siap bekerjasama membimbing Anda. Karena itu bersikaplah Teachable. Sikap untuk selalu mau belajar, mau diajar.

Tidak peduli sehebat apapun Anda, sesukses apapun Anda di luar bisnis ini. Anda harus mau belajar dan mau diajar oleh sponsor dan upline leader.

Mengapa?

Kita bisa sangat hebat di satu bidang yang sudah kita geluti, tetapi ketika memulai bidang yang baru, cara menjadi hebat di bidang yang lama belum tentu bisa kita gunakan di bidang yang baru. Anda bayangkan seorang juara dunia tinju. Untuk menjadi juara, setiap hari, ia harus memukul sansak ribuan kali. Itulah caranya menjadi juara dunia tinju.

Suatu ketika, si juara tinju ini ingin jadi pemain sepakbola. Lalu setiap hari tetap latihan memukul sansak ribuan kali. Apa yang terjadi ketika dia main bola, apakah dia bisa menjadi pemain hebat dilapangan? Tentu tidak

Kalau ingin menjadi pemain bola yang hebat, si juara dunia tinju juga harus belajar kepada pemain bola senior, bagaimana caranya menendang bola yang benar. Ia harus memulai latihan-latihan yang baru, menendang bola ribuan kali setiap harinya.

Sama di bisnis ini. Meskipun sponsor atau upline kita hanya seorang mahasiswa, pedagang kaki lima. Meskipun upline kita hanya lulusan SMA. Tetapi di bisnis ini Upline kita sudah lebih dahulu melewati jalannya. Kita tidak perlu membuat jalan sendiri, tinggal mengikuti jalan tercepat yang sudah dilewati oleh sponsor dan upline kita.

Sikap Anda untuk berkonsultasi itu juga sekaligus menunjukkan sikap Anda di bisnis ini.
Kalau anda membangun sebuah gubuk ukuran 2x2 meter,

anda perlu memanggil arsitek nggak? Anda perlu mengundang konsultan sipil nggak? Anda perlu mengundang konsultan interior nggak? Nggak perlu. Semuanya nggak perlu.

Bayangkan Anda membangun sebuah gedung lantai 100.

Anda perlu memanggil arsitek nggak? Anda perlu mengundang konsultan sipil nggak? Anda perlu mengundang konsultan interior nggak?

Pertanyaannya adalah, menurut Anda bisnis yang sedang Anda jalankan bisnis kecil atau bisnis besar? Bisnis gubuk atau bisnis gedung 100 lantai? Kalau ini bisnis besar, perlu konsultan nggak?

Seberapa sering Anda konsultasi juga bisa menjadi tolok ukur sikap Anda terhadap bisnis ini. Dengan ilustrasi yang sama, kalau anda membangun rumah lantai 3, dan pada saat yang sama Anda membangun gedung 100 lantai. Kira-kira lebih sering mana Anda melakukan konsultasi.

Saya menemui beberapa pertanyaan dari jaringan soal konsultasi ini :

“Bagaimana kalau sponsor dan upline yang saya kenal belum aktif Pak?”. Anda tanyakan, siapa saja upline-upline yang ada di garis sponsorisasi Anda. Berusahalah mengenal mereka dengan baik. Sehingga jika sponsor atau upline terdekat belum aktif, Anda tetap bisa mendapatkan bimbingan dari upline leader.

Sebagai seorang pengusaha, pegang prinsip “All beginning with me”. Segala sesuatu dimulai dari SAYA..!! Ini bisnis bisnis kita sendiri. Bukan bisnis upline. Kalau sponsor atau upline Anda belum aktif, tidak perlu di pikirin. Pikirkan apa yang bisa Anda lakukan SEKARANG..!! untuk kemajuan bisnis Anda.

Jika, sponsor atau upline belum memberikan bimbingan, bersikaplah pro aktif. Bangun hubungan baik dengan upline leader Anda, dan kunjungi mereka untuk konsultasi.

Saya beberapa kali mendengar keluhan,”Aduh pak, upline saya sepertinya kok tidak antusias membimbing saya”.

Jangan memvonis, cobalah evaluasi diri. Mungkin cara Anda yang kurang tepat. Saya sendiri terkadang juga kurang sreg memberikan bimbingan kepada jaringan karena sikap-sikap mereka kurang tepat. Sebagian karena hal-hal sepele. Misalnya, datang menjelang maghrib. Saat-saat seperti itu bagi saya tidak nyaman memberikan konsultasi karena pasti disela oleh waktu ibadah.

Ok, saya akan sharing bagaimana sikap dalam konsultasi yang membuat sponsor atau upline Anda senang membimbing Anda.

  1. Jangan sering mengeluh.
    Setiap orang pernah mengalami down di bisnis ini. Mengeluh 1-2 kali, itu biasa. Namun jika setiap bertemu, Anda selalu mengeluh, sponsor Anda akan bosan dan kurang antusias memberikan konsultasi kepada Anda. Upline bukan tong sampah. Upline adalah tempat Anda mencari solusi. Jadi fokuslah pada solusi. Datanglah dengan pertanyaan, “Bagaimana caranya menghadapi masalah saya? Bagaimana agar target bisnis saya bulan depan tercapai?” dst
  2. Sampaikan Goal setting Anda dengan antusias.
    Apakah goal Anda peringkat atau omzet? Misalnya”Up bagaimana caranya bulan depan saya naik peringkat” Upline akan memberikan saran-saran sesuai goal setting Anda. Saya sering menemui jaringan yang tidak antusias dengan goal setting. Misalnya sering saya katakan kepada mereka, ”Bulan depan sudah harus peringkat baru ya..!!”, dia malah senyum-senyum ”Yaaa mudah-mudahan pak ya”. Kalau kita tidak antusias dengan goal setting kita, upline juga kurang bersemangat.
  3. Jujur apa adanya.
    Sehingga Upline bisa memberikan saran yang lebih tepat. Saya kadang-kadang menemui, ada distributor yang suka membesar-besarkan prestasinya. Menutupi kelemahan-kelemahan di lapangan. Sebetulnya dia tidak ingin konsultasi, dia hanya ingin dipuji. Atau sekedar menyenangkan Upline. Saya tahu setelah saya perhatikan perkembangan bisnisnya ternyata tidak kemana mana. Bersikaplah jujur.
  4. Tunjukkan komitmen mengatasi masalah.
    Tunjukkan Anda sudah berusaha mencari jawaban atas masalah Anda misalnya Anda sudah mencarinya di buku atau kaset. “up saya sdh coba cari solusi dengar kaset A, baca buku B, tapi saya belum puas ” Upline akan melihat, Anda sungguh-sungguh membutuhkan jawaban. Upline sangat senang memberikan saran-saran kepada leader yang mandiri dan pro aktif.
  5. Sadari upline Anda juga harus mengalokasikan waktu untuk jaringan yang lain.
    Jadi jangan berharap, upline selalu memuaskan keinginan Anda untuk mendapat bimbingan. Mintalah rekomendasi alat bantu yang perlu Anda miliki untuk membantu memberikan solusi. “Kaset apa yang perlu saya miliki up, buku apa yang perlu saya baca up..”. Percaya atau tidak, upline paling senang melihat jaringan semangat mencari alat bantu.
  6. Pahami kepribadian sponsor atau upline.
    Saran saya, pelajari personality plus. Bersikaplah sesuai kepribadian mereka, sehingga mereka merasa cocok dan nyaman dengan Anda.
  7. Rendah hati. Turunkan ego.
    Jika Anda merasa lebih tinggi secara ekonomi, status sosial dan pendidikan, itu bukan alasan untuk tidak konsultasi. Tapi justeru Anda yang harus lebih pro aktif untuk konsultasi. Karena bisa jadi upline Anda sungkan untuk memberikan saran-saran kepada Anda. Kalau Anda sudah membuka diri untuk mendapat petunjuk, Upline Bapak Ibu secara psikhologis lebih mudah memberikan nasihat.
  8. Sering-seringlah berterima kasih.
    Ini sepele sekali. Tetapi faktanya, banyak juga yang setelah mendapat bimbingan upline tidak berterima kasih.
  9. Secara sungguh-sungguh melaksanakan saran upline, dan mensharingkan hasilnya kepada upline Anda lagi.
    Banyak orang yang konsultasi hanya basa-basi. Mereka konsultasi tetapi jika ada saran upline yang kurang sesuai dengan pikiran mereka, mereka tidak mau jalankan. Ada kecenderungan orang untuk hanya mau melakukan saran-saran yang disenanginya. Kalau sesuatu itu harus dilakukan tetapi tidak disukai, maka saran upline diabaikan.


Percaya saja dengan upline Anda. Tidak penting Anda suka atau tidak. Kalau memang harus dilakukan untuk sukses menurut upline Anda, lakukan saja. Dengan demikian Anda membangun “Trust” dimata upline. Upline tidak perlu dibayar untuk merasa senang. Cukup upline tahu, Anda melaksanakan sungguh-sungguh sarannya, beliau pasti sangat senang. Di lain waktu, Upline pasti sangat antusias menyambut kehadiran Anda.

Anda bisa lengkapi sendiri, cara membuat upline Anda bersemangat memberikan konsultasi kepada Anda.

Baik selanjutnya, ……

Apakah dari anda ada yang pernah bertanya seperti ini,” Pak, saya malu konsultasi. Nggak enak ngerepotin terus”. Tenang aja, ciri-ciri seorang leader adalah merepotkan upline pada awalnya. Seorang upline sangat senang jika direpotin oleh jaringannya. Justeru kalau Anda nggak pernah konsultasi, upline Anda bingung. Upline Anda tidak tahu, apa yang bisa dia bantu untuk Anda.

Anda sering bertanya kepada upline karena apa, karena Anda bergerak. Saat Anda bergerak Anda pasti menemui masalah, semakin banyak Anda bergerak, semakin cepat Anda bergerak, masalah-masalah yang ditemui juga semakin banyak. Itulah sebabnya Anda terus merepotkan upline Anda. Upline Anda senang karena tahu, banyak masalah yang perlu Anda konsultasikan artinya, Anda benar-benar bergerak.

Setiap masalah pasti ada jawabannya sepanjang Anda mau mengkonsultasikannya. Di bisnis ini lucunya, banyak distributor yang menemui masalah kemudian disimpan sendiri. Lalu berkesimpulan, wah saya tidak bisa menjalankan bisnis ini.

Salah satu jaringan saya pernah bilang gini,”wah sponsor saya peringkatnya khan belum tinggi, apa dijamin benar arahannya?”. Ini pertanyaan bagus. Kepada siapa kita harus konsultasi? Apakah kita harus mengikuti petunjuk upline yang juga ‘masih ijo’?

Konsultasi harus dilakukan kepada sponsor/upline terdekat yang sudah menjadi distributor inti dan berperingkat lebih tinggi dari Anda. Perhatikan upline Anda, apakah upline Anda selalu ikut pertemuan, memiliki manual book yang diterbitkan perusahaan atau suport system, presentasi no delay. Apakah upline Anda selalu membaca buku dan mendengarkan kaset?

Sepanjang sponsor, atau upline Anda menjalankan sistem dengan benar, menjalankan -langkah-langkah sukses dan kebiasaan orang sukses, memenuhi persyaratan menjadi distributor inti, Ikuti saja. Karena apa? Sponsor dan upline Bapak/Ibu sudah belajar dari suport system dan dapat dipastikan beliau juga rajin belajar kepada uplinenya lagi.

Ini juga bisa menjadi pelajaran buat kita semua yang sudah jadi upline. Jangan tersinggung jika jaringan Anda tidak berkonsultasi ke Anda, tetapi malah konsultasi ke upline Anda. Anda perlu introspeksi jika Anda dilewati. Bisa jadi downline Anda melihat Anda belum konsisten di bisnis ini. Mungkin Anda belum memenuhi kriteria distributor inti. Mungkin Anda belum berlangganan kaset. Wajar dong jika downline merasa ragu, apakah advise dari Anda dijamin benar?

Jika Anda baru bergabung, Anda belum memahami dan menjalankan sistem dengan benar, belum mempelajari manual book, membaca buku yang direkomendasikan, seandainya downline Anda minta konsultasi sebaiknya Anda tidak memberikan konsultasi. Lebih baik Anda mengajak ke upline yang sudah memenuhi syarat distributor inti. Sekaligus Anda bisa belajar disana bersama downline Anda.

Tidak perlu malu kalau Anda tidak kelihatan hebat. Tidak perlu gengsi. Yang Anda butuhkan adalah Anda sukses. Kalau Anda rendah hati, Anda sukses, Anda pasti juga bergengsi.
Berikut kisah menarik dari Mahatma Gandhi :

Mahatma Gandhi adalah seorang pemimpin yang sangat dihormati dan sudah memiliki pengaruh luas, sebelum beliau menjadi pemimpin politik di India. Apa yang beliau ucapkan, selalu diikuti kepatuhan yang luarbiasa oleh para pengikutnya.

Suatu hari datang seorang ibu dengan seorang anaknya yang sangat suka sekali makan gula-gula. Sang ibu ini memohon kepada Gandhi,” Tolong, katakan kepada anak ini untuk berhenti makan gula-gula. Giginya sudah banyak yang bolong”.

Gandhi menatap anak itu dengan penuh kasih sayang sambil mengusap-usap kepalanya. Lalu beliau berkata,”Pulanglah, 3 hari lagi kembalilah kesini”.

3 hari kemudian, sang Ibu dan anak mengunjungi kembali. Seperti yang lalu, sambil mengusap-usap kepala anak itu Gandi berkata,”Nak, berhentilah makan gula-gula, engkau akan memiliki gigi -yang sangat bagus”.

Sang Ibu yang merasa heran bertanya,”Maaf Tuan, bukankah Anda bisa mengatakannya 3 hari lalu, mengapa baru sekarang?”

“Tiga hari yang lalu, saya masih senang makan gula-gula”, jawab Gandhi singkat.

Luar biasa sekali, Yah, itulah contoh seseorang yang sangat teguh menjaga integritasnya. Beliau berprinsip, “Do what U say, say what U do”.

Jadilah Mahatma Gandhi. Pastikan Anda sudah menjalankan langkah sukses, kebiasaan sukses dan memenuhi syarat distributor inti. Sehingga Anda memastikan memberi konsultasi yang benar kepada jaringan Anda. “Do what U say, say what U do”

Prinsip ini penting sekali. ada mitra yang mengadu,”Pak, upline saya kalau ngomong itu pinter sekali Pak. Nasihatnya semuanya luar biasa, tapi dia sendiri nggak melakukan yang dia omongkan. Saya jadi tidak begitu yakin dengan saran-sarannya”.

Jangan salahkan downline Anda bersikap seperti itu jika Anda tidak pernah memberikan tauladan.

Sebaliknya, untuk Anda yang punya upline seperti itu. Jangan menjadikannya sebagai contoh. Ini agak lucu, banyak yang tahu sikap uplinenya kurang tepat, tetapi dia melakukan seperti yang dilakukan uplinenya.

Kita terima saran-sarannya yang baik dan benar. Dan kita lupakan contoh-contoh yang tidak mendukung kesuksesan Anda.

Sukses Anda ditentukan oleh sikap Anda sendiri. Bukan sikap upline Anda. Kalau upline Anda bersikap seperti itu, masih banyak upline anda yang lain yang bisa Anda ambil contoh. Anda punya kebebasan memilih mau mencontoh yang mana.

Setiap distributor pasti punya Upline yang benar-benar konsisten dan on system. Upline Anda juga mencari mitra-mitra kerja yang seperti on system juga. Seorang upline leader, selalu bekerja di kedalaman untuk menemukan rajawali-rajawali seperti Anda.

Kalau Anda menjalankan bisnis dengan on system, upline leader Anda pasti akan berusaha mengenal lebih dekat dengan Anda. Dan anda akan menemukan mitra kerja yang tepat.

Belajar Mandiri

Untuk menjadi sukses, banyak hal yang harus kita pelajari. Kita harus menjadi orang yang tumbuh tumbuh dan tumbuh terus menerus. Pak Dosen bilang Longlife Learning, Orang jepang bilang Kaizen. Antony Robbin bilang Neverending Improvement, Nabi Muhammad mengatakan belajarlah sampai ke negeri Cina, dst.

Jadilah Seorang Pembelajar...!!!

Anda tahu Andrie Wongso? Salah satu pengusaha sukses dan motivator nomor 1 di Indonesia. Ternyata beliau adalah seorang yang tidak tamat SD. Tapi Anda tahu berapa bayaran beliau sekali bicara? Untuk bicara satu sessi seminar atau 2 jam, tarif beliau 30 juta rupiah. Luar Biasa..!!!
Apa resep beliau bisa sukses meski tidak lulus SD? Sederhana :
Belajar, action, belajar, action, belajar, action terus terus dan terus sepanjang hidup. Itulah sebabnya beliau menyandang gelar Andrie Wongso “Sang Pembelajar”.

Bersikap Teachable bukan berarti tergantung kepada Upline. Apa apa upline, apa-apa upline lagi.

Anda adalah Independen Business Owner. Anda adalah pemilik bisnis Anda sendiri. Nasihat Upline sangat menentukan kemajuan bisnis Anda. Tetapi Anda tidak bisa mengharapkan segala sesuatu datang dari upline. Karena itu Anda juga harus mau belajar secara mandiri. Lakukan semua hal yang disarankan oleh suport system.

Bisnis ini ibarat Anda mendaki gunung yang sama sekali belum pernah Anda kenal medannya.

Anda belum tahu, dimana jalan yang aman dan jalan mana yang licin.

Anda belum tahu dimana tempat paling aman untuk mendirikan tenda Anda.

Anda belum mengerti, perbekalan apa yang paling penting Anda bawa, seberapa banyak perbekalan yang Anda butuhkan.

Anda belum mengerti, dimana tempat mengambil air yang bersih dan aman untuk Anda minum.

Anda belum tahu berapa suhu di puncak sana, dan jaket seperti apa yang harus Anda gunakan untuk menghangatkan tubuh Anda.

Jika Anda ingin sampai di sebuah bukit, Anda harus dipandu oleh seseorang yang telah sampai di atas bukit itu. Jika Anda ingin sampai ke sebuah danau, Anda juga harus dipandu oleh seseorang yang sudah sampai ke danau itu. Jika Anda ingin sampai ke puncak , satu satunya jalan terbaik adalah dipandu oleh seseorang yang sudah pernah sampai puncak gunung itu.

Lakukan semua yang dilakukan oleh pemandu Anda di bisnis ini.

Selangkah demi selangkah...., Anda akan sampai di bukit itu

Selangkah demi selangkah...., Anda akan sampai di danau itu

Selangkah demi selangkah..., Anda pasti tiba di puncak



See U at The TOP ... !!

(diambil dari beberapa sumber)